dunia tidak lebih dari sayap nyamuk
TakLebih Berharga dari Sehelai Sayap Nyamuk! Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
DokterSehatCom - Nyamuk terbesar di dunia dengan ukuran lebih besar dari telapak tangan manusia ditemukan oleh seorang pakar biologi dari Tiongkok. Rentang sayapnya mencapai 11.15 cm dan 10 kali lebih panjang dari rata-rata nyamuk yang ada di seluruh dunia. Dilansir dari Next Shark, serangga yang diyakini paling besar yang pernah ditangkap
DariAbu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ "Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir" (HR. Muslim) Dari Amr bin 'Auf radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, فَوالله مَا
Inilahalasan kenapa Allah 'Azza wa Jalla memandang dunia ini hina, lebih rendah dari sayap nyamuk. Berikut ini alasan kenapa dunia disifati dengan kehinaan. Kecintaan seseorang kepada dunia akan membuatnya mengagungkan dunia, padahal ia rendah di sisi Allah. Dan di antara dosa-dosa besar adalah mengagungkan sesuatu yang dianggap-Nya rendah.
ProfilTim Grup E Piala Dunia 2022: Jepang Dikepung Raksasa. Dalam pertandingan yang berlangsung di Ahmad bin Ali Stadium, Al Rayyan, Qatar, Rabu (15/6/2022), Kosta Rika menang 1-0 dan berhak menjadi tim terakhir yang memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2022. Gol kemenangan Kosta Rka dicetak oleh Joel Campbell.
Sites De Rencontres Chrétiens Évangéliques Gratuits. Oleh Abdul Hakim [email protected] “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu, dan jangan pula penipu setan memperdayakanmu dalam mentaati Allah,” QS. Luqman 33. DUNIA memang indah. Warna-warni alamnya teramat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Hiasan-hiasannya bagaikan magnet yang mampu menarik siapa pun di sekelilingnya. Pesonanya bisa memukau mata manusia mana pun yang menatapnya dengan penuh harap. Mereka pun berkhayal, andai dunia tak pernah berpisah. Kenikmatan yang berlimpah kadang bisa lebih berbahaya dari musibah terburuk apa pun. Seorang hamba Allah mungkin bisa bertahan dengan siksaan dan penjara. Tapi, belum tentu ia mulus dengan cobaan banyaknya harta. Berbahagialah hamba Allah yang kaya dan senantiasa bersyukur. Jangan pernah bergeser dari niat yang ikhlas Ikhlas adalah dasar diterima atau tidaknya sebuah amal. Apalah arti sebuah prestasi jika Allah swt. tidak menganggapnya sebagai sebuah bakti. Mungkin, manusia bisa tertipu dengan hiasan-hiasan amal yang ditampilkan. Tapi, Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi di balik hati seorang hamba. Sekecil apa pun. Keanggunan hiasan dunia kadang membuat hati manusia tertipu, terpedaya. Buat siapa pun, termasuk hamba Allah yang giat beramal. Bahkan, seorang sahabat Rasul sekali pun. Kisah kurang amanahnya pasukan pemanah pimpinan Abu Ubaidah pada Perang Uhud memberikan pelajaran tersendiri. Mereka siap menempuh bahaya seganas apa pun. Tapi, tak sesiap itu ketika menatap lambaian ghanimah. Kenikmatan dunia memperdaya mereka, merontokkan komitmen mereka terhadap perintah Rasul “Apa pun yang terjadi, kalian harus tetap di bukit ini!” Tidak heran, jika Allah swt. mengajarkan Thalut untuk menguji kesetiaan pasukannya dengan sungai. Buat kondisi jazirah Arab yang panas, sungai merupakan perwujudan standar dari bentuk kenikmatan dunia menggiurkan di saat dahaga, menyejukkan di saat panas terik membakar. Kalau pada takaran standar saja mereka rontok, apatah lagi dengan kenikmatan yang lebih besar. Dan peperangan yang akan mereka hadapi bukan sekadar menumbangkan Jalut, tapi mengendalikan diri dari hamparan kenikmatan yang dimiliki Jalut. Mampukah? Amru bin Ash di saat menghadapi akhir hayatnya pun menyadari. Betapa ia yang pernah berjuang bersama Rasulullah saw., menghunus pedang untuk membantai musuh-musuh Islam dengan pengorbanan yang tidak kecil, pun akhirnya bisa terpedaya dengan nikmatnya kekuasaan. Sebuah bagian dari kenikmatan dunia yang belum seberapa. Tidak ada yang mampu mengawasi jati diri seorang hamba kecuali Allah dan dirinya sendiri. Dirinyalah yang tahu, apakah niatnya masih lurus. Atau, sudah bergeser. Dan kelak, ia akan menuai amal yang pernah ia tanam. Bagus atau buruk. Biasakan untuk senantiasa memberi, bukan sebaliknya Manusia memang tak bisa lepas dari tarikan dunia. Karena, sebagian dirinya berasal dari unsur tanah yang berarti bagian dari wujud dunia. Ia butuh makan, minum, tempat tinggal, pasangan, keluarga, status sosial, dan sebagainya. Tinggal, bagaimana ia mengelola keakrabannya dengan dunia. Orang yang akrab dengan sesuatu biasanya akan cinta. Dan cinta menjadikan seseorang sulit dipisahkan dengan yang dicintai. Karena itu, sebelum seseorang terlanjur mencintai dunia, ia harus melatih diri untuk secara rutin berpisah. Biar kecil, tapi rutin. Di situlah mungkin, di antara hikmah Allah swt. mewajibkan infak buat orang-orang yang beriman. Tak ada keuntungan sedikit pun buat Allah. Karena, tak satu pun benda di alam ini melainkan dari-Nya. Semua manfaat itu akan kembali kepada manusia itu sendiri. Sekilas, memberi terasa merugikan. Karena, ada bagian kepemilikannya yang dikorbankan buat orang lain. Tapi, justru di situlah seorang yang mudah memberi akan merasakan manfaat. Selain menyeimbangkan keakrabannya dengan dunia, memberi adalah bentuk investasi lain buat kepemilikan yang lebih berharga dari materi yang ia korbankan. Selain balasan dari Allah, ia akan mendapatkan nilai sosial lebih. Harga sosialnya akan semakin mahal, tanpa ia sadari. Allah swt. berfirman, “Ada pun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik surga, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” QS. Al-Lail 5-7 Turunan dari memberi begitu banyak. Rasulullah saw. sering menganjurkan kita untuk bersedekah, memberi hadiah, menolong orang yang kesulitan dana, mengurus anak yatim, dan lain-lain. Karena itu, bersikaplah untuk senantiasa siap memberi buat orang lain. Bukan, berharap-harap apa yang mesti orang lain berikan kepada kita. Jadilah seperti seorang penjual, bukan pembeli Perbedaan mendasar antara seorang penjual dengan pembeli adalah sikap mental. Seorang penjual punya sikap pelayanan. Dan pembeli punya sikap memilih-milih, tidak merasa perlu. Apa pun yang dituntut pembeli, penjual akan menyesuaikan diri. Bahkan, ia harus siap dicela, dimarahi pembeli, tanpa memperlihatkan reaksi ketidaksukaan. Apalagi perlawanan. Dan, manajemen modern membenarkan itu. Begitu pun dalam beramal. Kehidupan seorang hamba Allah di dunia ini tak lain adalah seorang penjual. Dan Allahlah Si Pembeli. Pembeli bisa menentukan kriteria apa saja atas barang yang dibeli. Dan penjual wajib memenuhi, jika dagangannya mau terjual. Allah swt. berfirman dalam surah At-Taubah ayat 111, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” Tak ada satu penjual pun yang santai-santai saja menyambut tawaran harga tinggi dari seorang pembeli. Dan harga apalagi yang lebih tinggi dari surga yang penuh kenikmatan. Dan satu lagi. Tak ada penjual yang sedemikian cintanya dengan dagangannya sehingga ia tak akan pernah menjual. Teramat bodoh seorang penjual yang bersikap, “Biarlah saya tak untung, yang penting barang dagangan yang saya cintai tak terjual!” Saat itu, ia bukan lagi seorang penjual. Tapi, penikmat. Seorang hamba Allah yang cerdas tak akan terpedaya dengan dunia. Seindah apa pun, ia tampil. Segemerlap apa pun dunia bersolek. Karena dalam pandangan Allah, dunia tak senilai saya nyamuk. Rasulullah saw. bersabda, “Andaikan dunia itu senilai dengan sayap nyamuk di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air dari dunia.” HR. Tirmidzi. [] Kirim OPINI Anda lewat imel ke [email protected], paling banyak dua 2 halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri.
Berikut khutbah jumat “Pertanggungjawaban di Akhirat” yang disampaikan Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah Hafidzahullahu Ta’ala. Khutbah Pertama Pertanggungjawaban di AkhiratKhutbah Kedua Pertanggungjawaban di AkhiratVideo Khutbah Jumat Tentang Pertanggungjawaban di Akhirat “Wahai orang-orang yang beriman,” menurut ana semua yang hadir di tempat ini beriman. Berarti kita dipanggil, jama’ah. Berulang kali Allah memanggil kita di dalam Al-Qur’anul Karim, tapi kita tidak mendengarkan, kita sibuk dengan aktivitas kita. Allah mengatakan اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.” Sebagian berkata “kalau takwa kita sering mendengarnya”. Padahal itu bukan hanya ucapan yang didengar, tapi takwa adalah mengingat Allah selalu dan tidak melupakanNya. Takwa adalah bersyukur kepada Allah dan tidak kufur. Takwa adalah melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ “Jangan mati kalian kecuali dalam kondisi Islam.” Ahibbati Fillah.. Kalau kita melihat peristiwa demi peristiwa yang kita hadapi di rumah kita, di diri kita pribadi, di kampung kita, di negeri kita, ada banyak musibah. Dan ternyata musibah itu seakan-akan tidak pernah berhenti menimpa kita. Kenapa? Yaitu karena memang kita sedang berada di negeri bala’, kita sedang hidup di dunia yang kata Allah Azza wa Jalla وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ “Kami benar-benar akan menguji kalian dengan rasa takut, rasa lapar” وَنَقْصٍ… “Ada kekurangan harta, keurangan buah-buahan, kurangan kerabat.” Iya, itu ujian dari Allah Azza wa Jalla. وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ “Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” QS. Al-Baqarah[2] 155 Ahibbati Fillah.. Di antara musibah-musibah yang menimpa kita, yang menimpa saudara kita, ada sebagian kehilangan motornya, ada sebagian yang terbakar rumahnya, ada sebagian terjadi gempa di negerinya. Menurut kita sebagian musibah itu besar. Kasihan fulan, bapaknya mati, ibunya mati, rumahnya habis. Iya, kita kasihan sama fulan. Satu kampung hilang dari Indonesia. Tapi ada sebuah musibah yang lebih besar daripada kita kehilangan rumah dan isi rumah kita. Ada sebuah musibah yang lebih dahsyat daripada gempa bumi, daripada tsunami, apa itu? Yaitu musibah agama kita. Sebagian orang kehilangan shalat subuh, sebagian orang melakukan kemaksiatan, sebagian orang melakukan kesyirikan, tapi dia tidak merasa itu musibah. Ahibbati Fillah.. Berapa sih harga rumah kita? Berapa sih harga kompleks ini? 10 triliun? Tidak sampai! 1 triliun? Kemahalan. Berapa kira-kira? Kita tau dua rakaat sebelum subuh رَكعَتَا الْفجْر خير من الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا “Dua rakaat sebelum subuh itu lebih baik dari negeri ini.” Kita sering kehilangan dua rakaat sebelum subuh tapi kita tidak merasa kehilangan apa-apa. Kalau cluster ini ditelan oleh bumi, akan jadi cerita di dalam koran, akan di-publish di mana-mana bahwa ada sebuah cluster yang hilang ditelan bumi. Tapi masyarakat-masyarakatnya tidak shalat, tidak ada yang cerita. Ahibbati Fillah.. Musibah dalam agama itu musibah dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa mengatakan وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا “Ya Allah, jangan jadikan musibah kami dalam agama kami, Ya Allah.” Antum tahu sebagian orang ketika datang ke Masjid, dia lihat sudah bubar shalat berjamaah di Masjid. Itu tangga-tetangganya takziah bela sungkawa ke rumahnya. Sampai sebagian dari Salafush Shalih mengatakan “Aku ketika anakku meninggal dunia 1000 orang datang untuk bela sungkawa. Aku kehilangan shalat berjamaah di Masjid tidak ada yang peduli sama aku.” Kenapa jama’ah? Yaitu karena kita memandang dunia ini segala-galanya. Wallahi dunia ini tidak lebih dari satu sayap nyamuk. Kata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّه جَنَاحَ بَعُوضَةٍ “Andaikata dunia ini ada nilainya seperti salah satu sayap nyamuk itu,” مَا سَقَى كَافِرًا مِنْها شَرْبَةَ مَاءٍ “Orang kafir tidak akan dikasih seteguk air.” Antum pandang dunia, Antum pandang mobil-mobil yang mewah, Antum pandang gedung-gedung yang tinggi? Antum lihat semua itu dan Antum pegang satu nyamuk. Antum lihat, ternyata nilai semua itu tidak lebih dari satu sayap nyamuk. Tapi kita berjuang dari pagi sampai sore, malam hari kita bekerja lembur, tapi untuk akhirat kita jama’ah? Hari ini mungkin ada yang tidak membaca Al-Qur’anul Karim, belum selesai membaca Al-Kahfi, tapi buat dia juga itu bukan musibah. Coba dia telat datang ke kantornya. Mungkin dia akan menyesal. Ahibbati Fillah.. Allah mengatakan بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ “Kalian lebih mementingkan kehidupan dunia.” وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ﴿١٧﴾ “Akhirat itu lebih baik, lebih abadi.” Semua yang kita lihat akan kita tinggalkan, jama’ah. Khutbah Kedua Pertanggungjawaban di Akhirat Jama’ah Rahimakumullah, Mungkinkah orang seperti kita masuk surga? Para sahabat Nabi ketika mereka sampai ke Kota Madinah, setelah hidup 13 tahun penuh perjuangan dan pengorbanan, rumah mereka mereka tinggalkan, keluarga mereka mereka tinggalkan di Kota Mekah. Mereka datang ke Kota Madinah untuk hijriah. Ternyata Allah masih menegur mereka di surah Al-Baqarah ayat 214, Allah mengatakan أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ “Apakah kalian mengira kalian bisa masuk surga?” Itu sahabat Nabi yang sebagian terbunuh mempertahankan agamanya. Allah katakan أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ “Kalian mengira kalian bisa masuk surga?” وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّـهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّـهِ قَرِيبٌ ﴿٢١٤﴾ Kalian mengira kalian bisa masuk surga? Kita ini santai hidupnya, jama’ah. Perjuangan apa yang sudah kita lakukan? Darah mana yang sudah kita teteskan? Lihatlah itu para sahabat Nabi Allah tegur. Lalu kalian berharap masuk surga? Ahibbati Fillah.. Kita ini mungkin tidak terbayang seperti apa surga yang Allah tawarkan. Kerudungnya bidadari surga kalau dibandingkan dengan dunia, maka itu lebih baik dari dunia dan isinya. Orang bangga punya jam 5 milyar, bangga punya baju 1 miliar, punya tas miliaran, kerudungnya penghuni surga itu lebih baik dari dunia dan isinya. Terus apa yang harus kita lakukan? Kata Allah “Sedangkan kalian belum ditimpa dengan musibah-musibah yang pernah menimpa orang-orang sebelum kalian.” Mereka ditimpa dengan berbagai balak, kemiskinan, kefakiran, penyakit, serangan musuh, dibantai, ditindas, digoyangkan bumi ini. Wallahi, sebagian kita mungkin diuji dengan harta, paginya muslim sorenya kafir, sorenya muslim paginya kafir. يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا “Dia jual agamanya untuk mendapatkan sedikit kenikmatan dunia.” HR. Muslim Kita sedang berbincang tentang musibah dunia. Kalau Antum kehilangan semua harta Antum, asalkan tidak kehilangan iman, ada harapan Antum masuk surga. Mereka para pengikut-pengikut Nabi sebelumnya pun diuji. Antum lihat bagaimana tukang sihir Firaun yang diuji imannya. Pagi hari datang kepada Firaun mendukung Firaun bahkan dia ingin menjadi orang-orang dekatnya Firaun. Sore harinya mereka dibantai dan disalib di pohon kurma dalam kondisi tangan dan kakinya diputus. Iman mereka paginya masih cinta dunia, sorenya sudah berharap masuk surga. Mampukah kita kalau agama kita ditawar seperti itu? Kisah Ashabul Ukhdud, bagaimana orang-orang dimasukkan ke dalam ukhdud parit yang penuh dengan api. Salah satunya seorang wanita dengan bayi dalam gendongan dia. Dia disuruh memilih antara beriman dengan sekutu-sekutu/berhala-berhala atau mati dalam kondisi beriman kepada Allah Azza wa Jalla? Sempat dia kasihan kepada anaknya. Allah turunkan bantuan sehingga anak itu bisa bicara mengatakan اصبرى يا أماه… “Sabar bunda, adzab dunia ini lebih ringan daripada adzab akhirat.” Maka tolong bersabar, berjuanglah terus, engkau akan terus disakiti. Kita tidak akan pernah beristirahat. Kapan istirahat? Ketika engkau meletakkan kakimu di surga. Ahibbati fillah.. Hari ini hari Jumat. Hari Jumat ini afdhal, kata Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih afdhal daripada idul fitri dan idul adha. Apa yang kita lakukan di hari Jumat? Berapa kali kita bershalawat buat Nabi Alaihish Shalatu was Salam? Sebagian tidak mengagungkan Jumatan, datang telat dan tidak merasa itu musibah buat dia. Kenapa? Karena ada masalah di hati dia. Agungkan hari Jumat. Di sore hari ada doa yang mustajab, perbanyak doa, perbanyak shalawat. Video Khutbah Jumat Tentang Pertanggungjawaban di Akhirat Mari turut menyebarkan link download kajian ini di media sosial yang Anda miliki, baik itu facebook, twitter, atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum..
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. *Bahagia dalam Usaha Agama* Ikan keluar dari air menggelepar, bergitu juga cacing akan menggelepar jika lama keluar dari tanah, kuda juga akan gemetar jika dimasukkan ke dalam air karena tidak sesuai dengan fitrahnya. Fitrahnya manusia adalah dalam agama, manusia tidak akan menggelepar jika tetap dalam fitrah agama, sebaliknya manusia yang tidak dalam agama akan selalu menggelepar. Banyak manusia menyangka di pantai-pantai ada kebahagiaan dan kejayaan. Pergi dari Indonesia ke pantai Spanyol untuk berjemur dan melihat-lihat orang dan pemandangan, yang dari Eropa ke pantai Kuta Bali untuk melihat ombak di sana selama satu jam atau dua jam masih terasa senang, namun satu hari atau dua hari terasa bosan. Pantai Malaka, pantai Padang, Pantai Teranggano dan seluruh pantai di dunia sama aja ombaknya tidak jauh beda, sama saja, begitu-begitu saja, pantai di Indonesia, Malaysia, Amerika sama saja, ada pasir dan ombaknya, kalau tsunami baru ombaknya berbeda. Melihat ombak biasa itu seperti melihat gunung-gunung. Di mana-mana gunung-gunung sama saja, begitu-begitu saja, satu jam dua jam kita senang senang melihatnya, namun satu hari dua hari terasa bosan. Ketika orang-orang yang tinggal di kota pulang ke kampung melihat sawah-sawah dan pemandangannya awal mula tiba memang menyenangkan terlihat indah, namun sehari dua hari sudah mulai bosan, senangnya hanya sebentar. Ketika mendengar lagu yang dinyanyikan penyanyi, satu lagu yang disenangi didengar berulang-ulang terjadi kebosanan, beralih ke lagu lain juga bosan, tidak bisa didengar terlalu lama, terus bosan. Berarti keindahan dan kemewahan dunia bukan di situ letak kebahagiaan, itu namanya masih menggelepar KH. Ahmad Mukhlisun. Jadi, sebetulnya di mana letak kebahagiaan dan kejayaan itu? Jawabnya, ada dalam usaha agama. Jika kebahagiaan itu bukan terletak pada usaha agama, maka orang-orang kaya yang bisa membeli apa saja yang mereka tentu mereka yang paling bahagia, begitu juga pejabat tinggi yang bisa mengendalikan banyak orang bahawahannya tentu ia bahagia. Namun kenyataannya tidak begitu, bisa dilihat di berbagai berita disebutkan banyak orang kaya dan pejabat yang hidupnya gelisah, stres dan gundah gulana. Banyak di antara mereka menggunakan narkoba sabagai alat untuk menenangkan diri, akhirnya tertangkat dan masuk penjara, ada hukumannya satu tahun, dua tahun sepuluh tahun bahkan lebih. Ini lah akibatnya jika harta dijadikan acuan kebahagia, tanpa dibarengi usaha agama. *Jalan Orang Sukses* Sebagian orang beranggapan bahwa orang yang sukses adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat, seperti sebagai pejabat. Sebagian lagi berpendapat, bahwa orang yang sukses adalah orang yang berharta banyak, memiliki rumah mewah, memiliki kendaraan yang banyak, dan lain-lain. Sebagian lagi berpendapat, bahwa orang yang sukses adalah orang yang tampan, cantik rupawan. Sebagian lagi berpendapat, bahwa orang yang sukses adalah orang yang berhasil menjadi artis. Sebagian lagi beranggapan orang yang sukses adalah orang yang banyak anak dan istri. Dan sebagian lagi berpendapat, bahwa orang yang sukses adalah orang yang berhasil mendapatkan apa yang di atas tidaklah salah seperti memperoleh apa yang dicita-citakan adalah indikator orang yang sukses bagi umumnya orang. Akan tetapi kesuksesan seperti itu merupakan kesuksesan sementara yang kemudian akan ditinggalkannya. Adapun kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang sitiqamah dalam agama hingga ia masuk ke surga dan terhindar dari neraka. Allah Subhaanahu wa Ta'ala,فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ"Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." QS. Ali Imran 185 Inilah orang yang sukses. Hal itu, karena ketika seseorang masuk surga, maka apa yang diinginkannya ada. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ"Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap dipandang mata dan kamu kekal di dalamnya." QS. Az Zukhruf 71 1 2 3 4 5 6 Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Gencil News – Jangan Tertipu, Dunia hanya Senilai Sayap Seekor Nyamuk. Allah telah memperingatkan supaya manusia tidak tertipu dengan kehidupan duniawi yang fana ini. يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَيَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغُرُور “Wahai para manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kalian, dan janganlah sekali-kali setan yang pandai menipu, memperdayakan kalian dari Allah.” [ Fathir 5]. Dunia memang selalu menggoda. Dunia selalu tampak indah dan menawan. Ia cantik mempesona dan memikat hati banyak manusia. Namun, dunia juga merupakan cobaan, untuk menguji siapa di antara hamba Allah yang beriman dan siapa yang tidak. إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِینَةࣰ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَیُّهُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلࣰا. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” [Al Kahfi 7] Orang yang tertipu dengan kehidupan duniawi benar-benar telah merugi, karena kenikmatan dunia seisinya tidak lebih berharga di sisi Allah dari sebuah sayap seekor nyamuk! Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ “Seandainya dunia sepadan dengan harga sayap seekor nyamuk, niscaya orang kafir tidak akan mendapatkan kenikmatan dunia meskipun hanya seteguk air.” HR. Tirmidzi, 2242 dishahihkan Al-Albany Itulah nilai dunia yang ditunjukkan oleh Allah kepada manusia, agar jangan sampai mereka terpesona dan terperdaya didalamnya. Demikianlah, Wahai kaum muslimin, Jangan Tertipu, Dunia hanya Senilai Sayap Seekor Nyamuk. Wallahu a’lam. Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc
Assallamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh… BismillahirRahmanirRahim… Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul junjungan; Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dunia ini tidak lebih baik dari seekor nyamuk! Sahabat fillah… Mungkin Kita bersungut-sungut ketika membaca kalimat di atas. Benarkah dunia yang sebegitu besar dan indahnya lebih hina dari seekor nyamuk?… Makhluk yang sering kita pandang tak berharga itu?… Makhluk kecil yang sering mengusik ketenangan kita. Ternyata ia mengalahkan kemegahan dan kebesaran dunia. Apa pasal?… Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus menyamakan persepsi terlebih dahulu. Sahabat fillah… Sebagaimana sudah maklum, bahwa pandangan orang terhadap dunia itu berbeda-beda. Di satu sisi, orang memandang dunia ini adalah surga’, namun di sisi lain orang memandang dunia sekadar mampir ngombe saja. Perbedaan pandang ini bertolak dari perbedaan cara memahami makna kehidupan dunia itu sendiri. ** Yang pertama mengartikan kehidupan dunia dengan kesenangan dan foya-foya. ** Sedangkan yang kedua mengartikan kehidupan dunia ini sebagai ladang amal dan ibadah. Jika yang pertama, mereka akan berbuat apa saja demi tercapainya cita-cita, tanpa menghormati nilai-nilai kemanusian, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Tipu, dusta, manipulasi, kolusi, dan korupsi adalah makanan’ sehari-hari. Bahkan membunuh pun bukanlah barang baru’. Mereka inilah sekumpulan orang yang tidak bernurani dan ingin menang sendiri. Orang yang hatinya telah mati dan tidak mengenal kasih sayang, yang kerjaannya hanya memperturutkan hawa nafsu belaka. Maka yang kedua adalah orang-orang berhati lembut, penuh kasih sayang, dan bernurani sehat. Sejatinya, yang menjadikan nilai dunia lebih rendah dari nyamuk bukanlah karena dunia itu lebih jelek dari segi penciptaannya daripada nyamuk. Bukan, bukan karena itu. Sebab kalau dari sisi ini jelas dunia jauh lebih bernilai. Apa yang ada di dunia adalah semata-mata karunia dan nikmat dari Allah, Sang Pencipta. Gunung, lautan, matahari, bulan, bintang, dan seterusnya adalah pemberian yang wajib disyukuri. Dan tanpa diragukan lagi, semua itu jauh lebih baik dan berharga dibanding nyamuk. Tetapi yang menjadikan nilai dunia ini lebih rendah dari nyamuk adalah dikarenakan polah dan tingkah laku manusia itu sendiri. Lalu apa hubungannya dengan soalan ini?… Ya jelas ada hubungannya, karena manusia adalah pemakmur dan penanggung jawab bumi. Terlebih-lebih mayoritas penduduk bumi berjenis manusia pertama, sebagaimana diuraikan di atas. Jadi, kesimpulannya adalah tingkah laku manusia itu lebih hina dan rendah dari pada tingkah laku nyamuk. عن سهل بن سعد قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ. ** Dari Sahl bin Sa’ad berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda, “Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah. Niscaya Ia tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air” HR. Tirmidzi. Syeikh Albani menshahihkan hadist ini. Tapi, bagaimana mungkin manusia bisa lebih hina dan rendah daripada nyamuk?… Bukankah manusia diberi kelebihan akal, sedangkan nyamuk tidak?… Justru, di sinilah letak pokok persoalannya. Jika memang manusia memiliki akal, kenapa ia mengganggu yang lain?… Kenapa buang sampah sembarangan, misalnya?… Kenapa pula merokok di sembarang tempat, bukankah ia punya mata, kenapa tidak digunakan?… Lalu kenapa juga ada penebangan liar, perusakan alam dan pemusnahan satwa?… Bukankah kerusakan yang terjadi di bumi ini sebagian besar adalah ulah tangan manusia?… Bukankah error-nya ekosistem itu juga disebabkan manusia?… Belum lagi kerusakan moral maaf pembunuhan, pemerkosaan, pemerasan, penganiayaan, pencurian, dan seterusnya. Bukankah itu juga tingkah laku manusia?… Ya, memang, kerusakan itu manusialah biang keladinya. ** Sungguh benar apa yang diberitakan Al-Qur`an. ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” ar-Rûm [30] 41. Itu pun masih ditambahi penyimpangan-penyimpangan agama yang dilakukan manusia. Kemusyrikan di mana-di mana. Kedustaan sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan larangan-larangan agama pun dianggap sepele. Lalu di mana akal manusia?… Di mana pula mata dan telinganya?… Kenapa tidak digunakan?… Pantaslah memang, jika manusia menjadi lebih hina dan rendah daripada nyamuk. Tingkah lakunya saja sudah tidak mencerminkan sisi kemanusiaan. Jika hal itu dilakukan oleh binatang kita bisa memaklumi, karena binatang tidak berakal. Kalau manusia?… Adakah pembelaan yang pantas bagi orang yang tidak mau menggunakkan akalnya?… Maka Allah mencela orang yang tidak mau menggunakan akalnya, bahkan menyebutnya lebih sesat dari binatang. وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ “Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai” al-A’râf [7] 179. Sahabat fillah… Itulah tingkah laku manusia jika tidak ada keimanan di dalam dadanya. Iman akan mengikat batin manusia dengan Sang Pencipta, membuat hidupnya serasi dan seimbang antara tampilan luar dan dalamnya. Manakala hati kosong dari cahaya ilahi, manusia menjadi tidak terkendali. Sebab tidak ada pengikat antara dirinya dan Tuhannya. Itulah hal paling mendasar kenapa manusia seringkali tidak punya nurani. Alih-alih menunaikan hak orang lain, hak dirinya yang asasi saja ia abaikan. Yang terpikirkan olehnya adalah bagaimana hidup senang. Hanya ada nafsu dalam benaknya. Kecintaannya kepada dunia telah membuat mata hatinya buta. Meskipun cahaya petunjuk terang benderang di depan matanya, ia tidak akan melihatnya. Tidak ada ketaatan dan kebaktian. Yang ada hanya ketamakan dan kerakusan. Inilah alasan kenapa Allah Azza wa Jalla memandang dunia ini hina, lebih rendah dari sayap nyamuk. Berikut ini alasan kenapa dunia disifati dengan kehinaan. • Kecintaan seseorang kepada dunia akan membuatnya mengagungkan dunia, padahal ia rendah di sisi Allah. Dan di antara dosa-dosa besar adalah mengagungkan sesuatu yang dianggap-Nya rendah. • Kecintaan seseorang terhadap dunia akan menjadikan tujuan hidupnya untuk dunia semata, sehingga ia akan melakukan segala cara untuk mewujudkannya. Bahkan sarana yang seharusnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah dan akhirat pun ia tujukan untuk dunianya. Akibatnya, semuanya menjadi terbalik, dan hatinya menjadi berbalik arah ke belakang. • Kecintaan kepada dunia juga akan menghalangi seseorang melakukan amalan yang akan bermanfaat baginya di akhirat, karena ia terlalu sibuk oleh dunia yang dicintainya. • Kecintaan kepada dunia juga akan menjadikan seseorang terlalu bergantung pada dunia. Padahal seberat-berat siksa adalah karena dunia. Jika kecintaan itu menjadikan seseorang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, maka ia termasuk sebodoh-bodoh manusia. Sebab ia mendahulukan kehidupan yang semu dari kehidupan yang hakiki. Hadaanallahu waiyyakum ajma’in Wallahu’alam bishshawab … Semoga bermanfaat …^_^ Salam santun ukhuwah fillah … Rita Al-Khansa * Sumber Ust. Abu Hasan Abdillah, BA., MA. Rita Al-Khansa Editor
dunia tidak lebih dari sayap nyamuk